Aroma Wangi Puncak Slamet

Table of Contents
Gunung Slamet, kelebatan hutannya menjadi pesona tersendiri dengan beragam misterinya. 2:30 pagi mata ini sudah terbuka yang entah sudah kali yang keberapa. Kelelahan setelah pada hari sebelumnya masih terasa, wajar setelah berjalan hampir 12 jam. Ditambah kondisi tempat camp yang berada di kemiringan yang cukup curam, tapi inilah tempat terbaik yang bisa kami temukan. 

Saya hanya duduk di tenda sembari menghimpun tenaga yang tersisa, sambil mengingat runtutan perjalanan yang melelehkan hari kemaren. Betapa jauh jarak dari basecamp hingga pos 1, yang memaksa kami harus beberapa kali beristirahat. Juga salah satu teman yang kelelahan yang harus tinggal di Pos 6. Dan harapan mendapat tempat yang nyaman di pos 8 ini sirna ketika sudah banyak tenda-tenda berderet memenuhi setiap lahan yang datar. 

Aim yang saya pikir bisa tidur nyenyak akhirya bangun, disusul pakde. 4:00. Kami keluar tenda untuk menyiapkan minuman hangat. Lidah ini harus segera disiram dengan kopi panas yang kuentallll... Sudah rindu sekali rasanya dengan kopi, setelah kemaren sore harus kecewa dengan kopi setengah matengnya pos 5.  

Sambil menunggu air matang saya mencoba memanggil teman-teman yang masih di dalam tenda. Respon pun  dibalas cepat, menandakan mereka juga tidak tidur dengan nyenyak. Kemudian kami bersama-sama memasak mie instan sambil ngemil beberapa biskuit dan roti. Pengennya sih makan bubur ayam, sayang gak ada yang bisa masak.

Sesaat setelah sholat subuh, terdengar seseorang memanggil-manggil teman kami. Suaranya sih tidak begitu asing. Hmm... ternyata itu suara mbak ty dan mas dm yang harus kami campakkan kemaren sore. Ty kelelahan dan harus kami titipkan di tenda salah rekan dari Pemalang (thank’s berat broo). Akhirnya mereka ikut gabung juga. Untung sudah ada teh hangat jadi bisa disuguhkan sama mereka berdua yang sudah berangkat dari pos 6 jam 03:00 tadi. 

Jam 05:30 setelah semua persiapan selesai kami pun berangkat menuju puncak (kecuali pakde yang tidak ikut karena kelelahan). Sudah sejak bangun tidur tadi jalur ramai dipenuhi pendaki yang menuju puncak, berderet nggak ada putusnya. Terlihat juga beberapa pendaki sudah berada dipuncak Bambangan berderet memanjang dari selatan ke utara. 

Hanya beberapa menit saja kami sampai di pos 9 (plawangan). ... plawangan ini adalah batas vegetasi dengan ketinggian sekitar 3250 Mdpl. Ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda mereka di pos ini. Kami istirahat untuk mengatur nafas dan menghimpun mental untuk memulai serangan yang sesungguhnya hehe... di depan kami sudah menunggu hamparan kerikil dan batu dengan kemiringan yang curam. 
jalur menuju puncak dari batas vegetasi
Setelah semua komplit, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian saya menoleh ke belakang dan hanya ada 3 orang saja yang berada didekat saya. Memang dari sini perjalanan serasa sangat berat. Baru berjalan beberapa langkah saja sepertinya tenaga sudah habis. Nafas yang semakin pendek karena tipisnya oksigen membuat kami harus pinter-pinter mengatur nafas. 

Terlihat beberapa pendaki sudah turun dari puncak. Ada juga beberapa teman pendaki yang tidak sengaja membuat batu dan membuatnya jatuh. Itu membuat para pendaki lain harus waspada. Sekitar setengah perjalanan kami istirahat sejenak. Terlihat bagaimana panjangnya jalur yang telah kami lewati dari basecamp kemaren siang. Teringat jarak dari basecamp sampai pos 1 yang sangat panjang.

Kami melanjutkan perjanan yang tinggal satu langkah namun sangat berat ini. Aroma belerang makin jelas saja semakin ke atas. Selangkah demi selangkah akhirnya kami sampai juga di puncak pada pukul 6:30. Tampaknya hanya kami ber 4 (saya, ambon, aim dan pd) yang sampai di sini terlebih dahulu. Sepertinya kami tidak perlu menunggu teman yang lainya karena jarak yang terlampau jauh. 

Setelah nafas sedikit teratur kami putuskan untuk menuju ke puncak Surono di bibir kawah. Sedikit menuruni bukit dengan melewati jalan penuh batua segede kelapa. Setelah itu kita seperti menyeberang di sebuah lembah dengan batuan dan pasir. Tepat di dasar lembah ini tiba-tiba saya dikejutkan dengan aroma yang aneh. Bau wangi seperti misk menusuk hidung saya. dari mana asal aroma ini, padahal di sini adalah kawasan dengan bau belerang yang sangat kuat sekali. 
Segara Wedi, di belakang nampak G. Ciremai
Namun aroma wangi khas ini hanya sebentar saja, kemudian aroma belerang kembali mendominasi. Saya juga tidak terlalu ambil pusing dengan aroma wangi itu. Dan... tibalah kami di puncak Surono. Hal pertama yang saya lakukan adalah duduk hehehe... sudah dari mulai jalan tadi belum sempat duduk. Rasanya lega sekali. 

Menakjubkan sekali kawah gunung yang baru saja selesai erupsi ini. . terlihat samar diantara gas sulfatara dasar kawah nampak berwarna kekuningan. Disebelah timur nampak juga dataran tinggi Dieng, G. Sindoro dan G. Sumbing... saya berusaha mencari Gunung Merbabu dan Merapi, meskipun terlihat namun sudah sangat kabur, bahkan kamera tidak bisa menangkap gambarnya dengan baik. 
DT. Dieng, G. Sindoro, G.Sumbing & Puncak G. Merbabu terlihat samar-samar
Teman-teman saya sibuk ambil foto sana-sini dengan raut muka ceria. Saya menyusuri pun menyusuri pinggiran kawah dan mengambil beberapa gambar Segara Wedi (lautan pasir). Beberapa saat ketika gas solfatara menghilang, terlihat ada sebuah sumur yang cukup besar di tengah-tengah kawah Gunung ini. 

Setelah puas menikmati tempat ini kami segera bergegas, untuk menuju ke puncak yang satunya. Tentu saja jalan yang dilewati sama dengan waktu berangkat. Saya iseng bilang, “tadi di sini ada bau wangi lho” teman saya ternyata juga mencium bau itu. “baunya seperti parfum non alkohol” kata pD. Ditambah ada rekan dari Bandung juga ternyata mencium bau wangi itu juga. Namun kami tidak terlalu membahas itu terlalu jauh, anggap saja itu sebagai bonus karena sudah kebanyakan menghirup asap belerang.

Sampai di persimpangan jalur ternyata mas Al dan teman-teman yang lain sudah sampai. Kompor pun sudah disiapkan untuk membuat minuman hangat. Sambil menunggu matang saya jalan-jalan dulu ke puncak nampak ada beberapa orang tengah mengambil gambar. Saya hanya sebentar saja di tempat ini, setelah selesai mengambil gambar sekeliling saya kembali turun ke ujung jalur menuju jalur plawangan Jalur Bambangan. 

Saya duduk di sebuah batu menghadap ke arah Purbalingga, nampak berderet rumah-rumah penduduk yang nampak samar. Desa bambangan sendiri tidak terlihat karena tertutup oleh Gunug Malang. Kami sangat bersyukur cuaca dua hari belakangan ini cerah. Tidak terbayangkan betapa beratnya perjalanan jika turun hujan. meski jalur dari pos 1 menuju pos 2 sangat rimbun tapi tetap saja air hujan mampu menembus dari sela-sela dedauanan. 

Tak terbayangkan pula jalur setelah pos 4 yang rata-rata adalah jalur air, pasti akan sangat berat untuk melaluinya. Lamunan saya hentikan ketika pD dan ambon serta Fr menghampiri saya. Dan kemudian kami langsung menuruni lereng untuk menuju ke tempat kami mendirikan tenda di pos 8. Bukan hal yang mudah menuruni lereng kemerahan dengan batuan yang labil ini. Terkadang batuan bisa saja lepas ketika kami injak. Saya pelan-pelan bersama FR yg baru kali ini mendaki gunung. Tepat pukul 9 pagi kami sampai kembali tenda kami. Nampaknya pakde yang sangat pengertian sudah membuatkan kami teh hangat. 

Setelah selesai menyantap makan siang kami segera packing untuk melanjutkan perjalanan turun. Dari kejauhan kemi melihat ada seorang pendaki yang harus digendong oleh tim SAR karena kakinya terkilir. Dan juga ada kabar ada yang kepalanya tertimpa batu. Semoga mereka lekas sembuh. Dan buat teman-teman yang lain berhati-hatilah di mana saja tetap utamakan selamat. 

2 comments

tinggalkan jejakmu ...
Comment Author Avatar
January 14, 2016 at 11:27 PM Delete
Jalan ceritanya bagus banget... bisa buat refrensi kalau mau mendaki kesana nihh.. atau masnya mau ajak saya juga boleh...hehe
Comment Author Avatar
January 14, 2016 at 11:59 PM Delete
makasih, kalau mau lebih jelas jalurnya sih mending ke http://www.bukanpepatah.com/2015/01/jalur-pendakian-gunung-slamet-via.html. wah masih belum ada waktu mau balik ke sana. mungkin mas imut bisa nyari barengan di grup2 sosial media pendaki2 gunung. :D